Wednesday, April 8, 2009
Okay, jangan kecewa baca postingan ini kalo ternyata isina not as big as what you expected when you read the title (secara sebenerna yang maw Qbahas juga cuma masalah sepele yang mengganjal hatiQ dan ingin Qcurahkan supaya "plong"). Juga jangan tersungging kalo ada oknum yang merasa tersindir oleh postingan ini. This is purely my opinion yang ingin Qtumpahkan untuk melegakan hati and basically, for me, there's no thing such right or wrong opinion, jadi ya siapa mau bicara nanggepin postingan ini ato punya pemikiran lain tentang apa yang Q post ini ya itu sah-sah aja selama berpendapatna pake etika (walo mungkin sama ga logisna ma Q, hehehe :D), so feel free to tell me anything you wanna tell about this post di komen, okay? ;) Cheers!
This post is inspired by what my friend (sebut saja "Nt") experienced this morning di sebuah situs pertemanan. Here's the story:
Semuanya bermula ketika seorang teman Nt yang juga telah menjadi temanQ (sebut saja "Ads") bertanya di situs itu, apakah dia harus belajar mencintai sesuatu yang sama sekali tidak dia cintai. Kemudian ada teman lain (yang juga dikenal olehQ, Nt, dan Ads), sebut saja "Ra", yang menanggapi dengan berceramah bla-bla-bla Tuhan-adil-hanya-kita-yang-sebenarnya-harus-belajar-ikhlas bla-bla-bla bacalah-surat-ini-ayat-sekian-maka-kamu-akan bla-bla-bla (jujur, sungguh suatu solusi yang bikin males baca karena sangat panjang dan terkesan menggurui (ato mungkin cuma perasaanQ aja kali ya, secara Q ga terlalu tertarik urusan agama :P)) dan di bawahnya Nt hanya berkata,"Sometimes life's unfair, really unfair." MenurutQ tanggapan Nt lebih menenangkan karena ringkas tanpa terlalu banyak a-i-u-e-o, tidak menggurui, dan menunjukkan bahwa Ads tidak sendirian, banyak teman senasib yang kerap menganggap hidup itu tidak adil (orang kalo lagi stres pasti seneng kan kalo taw punya temen senasib???). Sejujurna Q juga bukan orang yang nganggep hidup ini ga adil, karena senggak adil apa pun pasti tetep ada hikmahna, cuma menurutQ apa yang dikatakan Nt hanyalah pandangan dia dan seperti yang uda Qsebutin di paragraf pertama, dalam berpendapat ato berpandangan, nggak ada yang salah maupun benar. Lagipula saat itu *sekali lagi* Q rasa Nt cuma ingin menenangkan Ads dengan berbagi.
Tapi begitu membaca komentar Nt barusan, kembali dengan gayana yang menggurui seolah akhlakna sangat sempurna serta ilmu agamana jauh di atas rata-rata orang awam, Ra menyuruh Nt untuk meralat kata-katana. Menurut Ra, Tuhan itu Maha Adil hanya saja kita yang sering terlalu bodoh dan menganggap-Nya tidak fair lalu bla-bla-bla-saya-tidak-ingat-secara-memang-tidak-saya-baca-sampai-selesai-karena-semakin-lama-isina-semakin-malesi-dan-sok-tau (la Nt cuma nulis sakkalimat, jawabanna Ra isa mubeng-mubeng dawa banget ngantek ra keitung pirang kalimat je...). Akhirna Nt memilih mengakhiri perdebatan dengan berkata,"Beda pendapat ya udah."
Q juga perna denger bahwa dulu saat masi sekolah, Ra bercita-cita melanjutkan ke fakultas favorit suatu perguruan tinggi di kotaQ karena menganggap pendidikan agama di fakultas tersebut telah menyimpang dan ia ingin meluruskannya. Oh, betapa mulia tujuanna. Tapi terima kasih lah, rasana kalo Ra yang berdakwah, murid-muridna bukanna berniat tobat malah semakin antipati ma hal-hal berbau keagamaan, jadi ngga usah aja kali ye... Dan untungna sih dia ga jadi nerusin niatna itu.
P.S.: Q ngepost ini bukan karena Nt temenku loh, Q BUKAN lagi ngebelain Nt untuk njelek-jelekin Ra, Ra juga temenQ kok. This is just another annoying story of my life dengan orang-orang semacam Ra, jadiin feedback aja walopun Q taw ini bukan good feedback.
Yah, pokokna gitu lah. Q cuma jadi berpikir, sebenerna orang-orang semacam Ra ni tujuanna meluruskan ajaran agama ato menyebarkan komunisme sih??? Habisna kalo menurutQ, apa yang dia tuliskan untuk Nt uda mengarah ke penyeragaman pola berpikir dan uda bukan meluruskan agama lagi. Yang kayak gitu apa namana kalo bukan komunisme? Ngga bisa lah kita nyuruh orang untuk selalu sepaham ma kita karena secara psikologis, orang ngga akan berubah jika dia ngga melihat perubahan itu akan membawa manfaat bagina. Kita hidup di negara demokratis, ngga perlu lah rasana kita berusaha memaksa orang lain untuk mikir sejalan ma kita, apalagi sampe bawa-bawa agama segala. Ngga usalah bikin ribet urusan agama walo jangan terlalu nganggep enteng juga. Tiap orang punya motto, prinsip, or whacamacallit yang jadi pilihanna, ga usalah kita anggep apa yang kita ketahui dan pegang teguh itu yang paling bener sampe suruh-suruh orang lain ngralat prinsip mereka. Berdakwah boleh aja, tapi jangan menggurui.
That's all sih. Smoga juga bisa nyampein aspirasi temen-temen yang pernah ngrasain hal yang sama. Now it's time to give me feedback! I'm not perfect either dan butuh kritik ama saran juga. Just say what you wanna say tapi tetep pake etika dan jangan menggurui, oke?! ;)
Labels: Dizzy-crazy-messy








2 comments:
matiii...
mata aye keculek fontmu yg warna warni itu,,
bingoeng mocone,,
Gyahaha XD Nulis pake font warna ki asik je... :P
Post a Comment